Pentingnya Menyiapkan Dana Pensiun Sejak Muda


Pertanyaan ini mungkin terlintas di benakmu ketika membaca judul di atas, “Apa itu dana pensiun, dan mengapa saya harus mulai dari sekarang?” Well,  kami paham kenapa kamu berpikir begitu. Saat ini kamu mungkin memiliki banyak  tujuan keuangan  lain yang ingin dicapai; dana darurat,  tabungan untuk menikah, tabungan untuk tabungan rumah/apartemen, atau tabungan untuk  hidup selama sebulan  –yang akan kamu gunakan begitu pandemi berakhir. Tak salah,  kok,  jika kamu ingin mengejar hal-hal tersebut, karena finansial masing-masing orang memang berbeda-beda. Namun, siapkan dana pensiun sedini juga tak penting  lho.

Apakah saat ini kamu masih berada dalam rentang umur 20-an atau 30-an? Memang, masih bertahun-tahun lagi sampai akhirnya kamu pensiun nanti, dan rasanya bicara dana pensiun masih terlalu dini saat ini.

Namun sebenarnya, inilah yang membahayakan. Masih banyak generasi muda yang berkeinginan untuk memulai dana pensiun. Mengutip data dari BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, dan Asabri pada tahun 2020, hanya 16% dari total tenaga kerja di sektor formal dan informal yang memiliki program jaminan pensiun dan jaminan hari tua. Dengan indikator bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 2000, maka berdasarkan survei dari DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) Indonesia, hanya 14% kaum milenial yang memiliki program pensiun.

Padahal, mengumpulkan dana untuk pensiun jauh lebih sulit dibandingkan mengumpulkan dana darurat,  lho . Kamu membutuhkan dana yang sangat besar ( seperti secara harfiah BESAR ) untuk dapat menikmati hari tua nanti. ika tidak mulai dari sekarang, kemungkinan besar kamu akan kehilangan kesempatan untuk membuat uangmu “tumbuh”.

kamu mungkin bertanya-tanya, apa iya butuh dana besar untuk pensiun? Penjelasannya, tentu saja ini adalah persiapan kamu untuk menjamin biaya kesehatan (siapa yang bisa menebak apa yang terjadi saat kamu nanti), inflasi, biaya sehari-hari, serta rencana lain di masa depan, seperti biaya  perjalanan .

Milenial adalah generasi yang paling rentan dalam menghadapi masa pensiun

Yup,  berdasarkan berbagai laporan, seperti itulah faktanya. Menurut hasil survei HSBC “ Future of Retirement, Bridging the Gap”  pada tahun 2018,diketahui bahwa 9 dari 10 orang Indonesia tidak sepenuhnya siap menghadapi situasi finansial saat pensiun kelak, dan 75% responden mengatakan bahwa mereka mengharapkan bantuan dana anak saat pensiun nanti . Hal ini semakin diperkuat dengan data dari Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2017, yang menunjukkan bahwa 65% pensiunan Indonesia memang lebih memilih untuk menggantungkan hidup kepada anak-anak.

Ini adalah bendera merah,  karena tidak seharusnya kamu bersandar pada keluarga atau anakmu di masa tua nanti. Seperti yang disebutkan oleh John Manyike,  kepala pendidikan keuangan  dari Old Mutual Savings, opsi tersebut pilihan yang terbaik untuk kamu dan keluargamu, terutama ketika keadaan ekonomi memburuk selama beberapa waktu belakangan. Sudah saatnya kamu lebih peduli pada dana pensiunmu, yang ( tentunya ) berbeda dengan tabungan. Sudah waktunya juga untuk berhenti berpikir bahwa tabungan pensiun merupakan  tujuan finansial  yang “ Ah,  nanti saja,  deh,  masih ada waktu,  kok.”

Ya, kamu mungkin punya banyak waktu, namun besaran uang yang kamu perlukan masih besar. Suatu hari nanti, kamu akan berhenti bekerja. Entah karena umurmu memasuki masa pensiun, atau kamu memutuskan untuk pensiun dini. Apa pun pilihanmu, kamu tidak akan menerima uang lagi secara rutin seperti sebelumnya, meskipun pengeluaranmu untuk biaya sehari-hari terus berjalan. Inilah peran dana untuk pensiun, yaitu untuk menutupi biaya tersebut ketika kamu sudah tidak lagi memiliki  penghasilan tetap.

Oke, jadi, berapa banyak besaran uang yang saya perlukan untuk pensiun?

Tentu saja jawabannya berbeda-beda, karena setiap orang memiliki kebutuhan yang beragam dan keinginan yang tidak sama. Kamu mungkin ingin tinggal di sebuah apartemen di tengah kota untuk masa tua nanti. Namun sahabatmu mungkin lebih memilih untuk tinggal di sebuah rumah yang terletak di kota kecil yang lebih tenang.

Inilah mengapa besaran uang yang dibutuhkan setiap orang untuk pensiun berbeda-beda. “Kalau begitu, setidaknya berapa minimal yang saya pesan?” Oke. Kalau kamu masih belum puas dengan jawaban tersebut,  untungnya,  ada rumus untuk menghitung pengeluaran tersebut, yang mungkin bisa membantumu mempersiapkan masa depan.

  • Cara pertama–lebih mudah dan simpel 

Yang paling mudah adalah menggunakan  Rule of 25 —atau yang juga dikenal sebagai  Multiply-by-25 Rule. Seperti namanya, kamu uang sebesar 25 kali dari pengeluaran tahunanmu saat ini untuk memastikan kamu jumlah uang yang cukup untuk masa pensiun nanti.

Pengeluaran per tahun: Rp150.000.000

Perkiraan dana pensiun: Rp150.000.000 x 25 = Rp3,75 miliar

Catatan: belum terhitung tahunan. Uh oh!

  • Cara kedua–lebih detail

Jika kamu membutuhkan angka yang lebih pasti, maka kamu bisa menggunakan  cara kedua . Putuskan terlebih dahulu pada umur berapa kamu ingin pensiun. Dari sini kamu baru bisa menentukan seberapa besar uang yang kamu butuhkan nantinya.

Usia & profesi saat ini: 25 tahun, first jobber

Gaji bersih: Rp5.000.000

Masa kerja hingga: 55 tahun

Perkiraan hidup hingga: 90 tahun ( Katakanlah,  kamu sehat hingga usia ini) 

Masa pensiun: 90 tahun – 55 tahun = 35 tahun

Mari lanjutkan. kamu kemudian ingin mulai menabung untuk dana pensiun setelah membaca artikel ini ( thank God! ). Maka kamu pun membuat bujet dan melihat cash flow-  mu. Setelah mengetahui jumlah uang yang Anda sadari bahwa, sepertinya  aku membutuhkan jumlah yang sama ketika pensiun nanti.”

Saat pensiun, kamu butuh:

Biaya bulanan: Rp5.000.000 per bulan atau Rp60.000.000 per tahun 

Perkiraan inflasi per tahun: 5% per tahun

Gaji pertama (Rp5 juta) setelah inflasi pada usia 55 tahun: Rp21.600.000

Perkiraan dana pensiun selama 35 tahun: Rp24 miliar!  ( Terkesiap! )

Sekarang inilah pertanyaan sebenarnya: Bisakah Anda mengumpulkan sebesar itu?

Baca juga: Siapa Bilang Menabung Itu Sulit? Berikut Langkah Mudahnya. 

Strategi menabung untuk dana pensiun

Kamu sudah tahu lebih dari berapa uang yang kamu tentukan untuk pensiun ( sigh ). Untuk menjawab pertanyaan di atas:  tentu saja bisa!  Kamu bisa mengumpulkan dana pensiun yang diperlukan dengan rencana yang jelas dan komitmen yang kuat.

Langkah #1: lakukan kalkulasi dengan matang

Sekarang, mari kalkulasi berapa yang perlu kamu tabung setiap bulannya untuk bisa mencapai angka sebesar itu. Normalnya, kamu membutuhkan sekitar 10 sampai 15 persen dari pendapatanmu untuk tabungan pensiun. Jika jumlah tersebut terlalu sulit bagimu, maka tak masalah. minimal  menabung  dana untuk pensiun, berapa pun besarannya. Ketika kamu mendapatkan kenaikan gaji atau bonus, maka tingkatkan tabungan pensiunmu hingga mencapai 15 persen (atau bahkan lebih). Tentu saja meningkatkan umurmu ketika kamu mulai menabung, maka semakin besar porsi kamu setiap bulannya.

Langkah #2: Tentukan program tabungan pensiun yang kamu inginkan

Ada banyak sekali pilihan tabungan pensiun di luar sana yang bisa kamu pilih. PINA akan menunjukkan beberapa opsi paling populer saat ini,  namun perlu diingat  bahwa kamu mungkin membutuhkan lebih dari satu penyelamatan untuk menyelamatkan masa depanmu.

Opsi program pensiun pertama  adalah mengikuti program pensiun dari pemerintah, yaitu BPJS Ketenagakerjaan. Berdasarkan UU no. 40 Tahun 2004 dan UU No 24 Tahun 2011, pemberi kerja harus mengikutsertakan karyawannya pada BPJS Ketenagakerjaan untuk membantu menyiapkan dana pensiun.

Sekarang, apa itu BPJS Ketenagakerjaan? Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan merupakan program wajib bagi seluruh pekerja formal, dengan beberapa jaminan program, yaitu Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, serta Jaminan Pensiun. Dari semua program tersebut, yang paling umum digunakan oleh perusahaan dalam perencanaan masa pensiun adalah JHT dan Jaminan Pensiun.

Iuran untuk Jaminan Hari Tua itu sendiri bersifat wajib, dan sudah diatur dalam undang-undang. Program ini diikuti oleh setiap pekerja, baik pekerja penerima upah, maupun individu bukan penerima upah seperti pemberi kerja, pekerja mandiri, dan pekerja lepas.

Pekerja penerima kerja biasanya langsung berangkat untuk mengambil program Jaminan Hari Tua oleh pemberi kerja. 

Jaminan Hari Tua: 5,7% dari gaji bulanan

Dibayar perusahaan: 3,5%

Dibayar karyawan: 2%

Misalkan, gaji bersih yang kamu terima saat ini besarannya Rp5.000.000, maka gaji kotormu sebenarnya adalah Rp5.285.000, dengan Rp285.000 sudah dipotong untuk iuran Jaminan Hari Tua.

Selain Jaminan Hari Tua, kamu juga bisa mengikuti program Jaminan Pensiun. Namun sayang, Jaminan Pensiun hanya berlaku bagi pekerja penerima upah. Pekerja penerima maksudnya adalah karyawan perusahaan maupun pekerja pada individu. Dengan kata lain, individu bukan penerima upah tidak dapat mengikuti program ini. Besaran untuk Jaminan Pensiun pun berbeda.

Jaminan Pensiun: 3% dari gaji bulanan

Dibayar pemberi kerja: 2%

Dibayar penerima upah: 1%

Nah,  perbedaan dari Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun adalah Jaminan Hari Tua secara keseluruhan begitu kamu pensiun nanti, sedangkan Jaminan Pensiun akan secara teratur setiap bulannya seperti gaji, dengan besaran sesuai dengan formula yang ditentukan tergantung jumlah uang yang sudah kamu bayarkan.

Kamu bisa melihat seberapa besar uang yang sudah kamu tabung dalam BPJS Ketenagakerjaan. Cek  website  BPJS Ketenagakerjaan, daftarkan dirimu jika kamu belum pernah melakukannya, lalu  login. Kamu bisa mengecek saldo Jaminan Hari Tua di sini. Sekarang Anda tahu berapa banyak yang telah Anda tabung untuk masa depan Anda.

Opsi program pensiun kedua yang bisa kamu ikuti adalah Dana Pensiun Lembaga Keuangan, atau biasa disingkat DPLK. Karena sifatnya tidak wajib seperti BPJS Ketenagakerjaan, tidak semua perusahaan memiliki program ini. Anda mungkin harus bertanya terlebih dahulu pada kantor apakah mereka menyiapkan program ini untuk para karyawan. Jika perusahaan tempatmu bekerja ternyata tidak mengikuti program DPLK, kamu tetap bisa,  kok,  menjadi peserta mandiri dengan mendaftarkan dirimu sendiri. Kamu juga bisa menentukan sendiri iuran yang ingin kamu setor per bulannya. Pasti semakin besar iuran yang kamu bayar, maka semakin besar juga dana yang akan terkumpul saat pensiun nanti.

Salah satu hal yang membuat DPLK merupakan program tambahan dana pensiun yang baik adalah pertumbuhan aset DPLK lebih cepat dibandingkan BPJS Ketenagakerjaan, meski menurut laporan Ketua Asosiasi Pengelola DPLK aset kelolaan mereka jauh lebih sedikit. Berdasarkan Catatan Perkumpulan DPLK yang sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat aset DPLK pada tahun 2013 adalah sebesar Rp29 triliun, sedangkan statistik per kuartal pertama pada tahun 2021 adalah sekitar Rp107,98 triliun!

Sayangnya, hingga 2018, tidak lebih dari 5% pekerja di Indonesia yang memiliki program pensiun DPLK, namun hasil investasi yang bisa didapatkan menguntungkan. Apakah kamu tertarikkah untuk mengikuti program pensiun ini?

Opsi program pensiun ketiga  tentu saja menyediakan dana pensiunmu sendiri lewat. Kamu mungkin bertanya-tanya, “Mengapa lewat investasi dan bukan tabungan?” Sejujurnya , jika kamu hanya mengandalkan bunga dari tabungan, kamu pasti akan kesulitan untuk mencapai target yang besar tersebut. Investasi bisa jadi opsi terbaik yang kamu miliki saat ini.

Sekarang ini, bunga terbesar yang bisa kamu dapatkan dari tabungan sekitar 3-4% (itu pun kalau kamu menabung sebesar Rp1 miliar,  duh! ), yangmasih di bawah tingkat inflasi Indonesia. Sementara, bunga yang bisa kamu dapatkan dari investasi adalah sekitar 7% hingga 8% per tahun. Dengan adanya  keajaiban bunga majemuk,  investasimu akan terus berbunga dan menguntungkanmu di hari senja nanti.

Jangan lupa, pengembalian peracikan benar-benar luar biasa ! Bahkan Albert Einstein sendiri mengatakan bahwa  bunga majemuk  merupakan “keajaiban dunia yang kedelapan”. Untuk hasil yang maksimal, lakukan sedini mungkin begitu kamu mendapatkan gaji pertama dan tidak perlu terburu-buru kalau kamu melihat angkanya masih sedikit. Seperti seluruh investasi, kamu harus melihat nilai tumbuh sedikit demi sedikit.

Langkah #3: Komitmen adalah kunci

Apa pun program pensiun yang kamu ambil, yang paling penting adalah membangun kebiasaan yang sehat demi masa tuamu nanti.Berikut beberapa tip dari para investor dan  pension savers  sukses yang bisa kamu tiru untuk menjaga investasimu tetap aman:

  1. Pisahkan.  Alih-alih satu, sebaiknya kamu mengambil setidaknya dua program pensiun untuk hasil yang maksimal, misalnya BPJS Ketenagakerjaan dan investasi. ika kamu memilih untuk berinvestasi (yang tentu saja merupakan pilihan yang sangat tepat!), menghindari keinginan untuk menempatkan seluruh harapan finansialmu dalam satu “kantong”. Portofolio yang lebih beragam–misalnya gabungan antara reksadana, saham dan obligasi, akan jauh lebih baik daripada satu bentuk investasi saja. Dengan begini, jika salah satu nilaimu semakin menurun, yang lainnya bisa berusaha untuk memohon.
  2. Perhatikan biaya dan aturannya.  Dalam berinvestasi, normalnya ada beberapa  dana murah  yang akan dibebankan pada Anda sebagai investor. Apalagi jika kamu menggunakan  broker,  baca baik-baik perjanjian investasimu. Kamu tidak ingin uangmu lebih banyak masuk ke “kantong” mereka dibandingkan tabungan masa depanmu.
  3. Komit, komit, komit.  Yup,  percayalah, menjaga komitmen jauh lebih sulit daripada mengumpulkan keberanian untuk memulai. Pensiun adalah tujuan jangka panjang,  dan investasi merupakan proses “menggendutkan” uang yang panjang. Nilai saham akan naik dan turun seiring berjalannya waktu, namun jika kamu tetap berkomitmen menjaga sahammu, maka menurut histori kamu akan mendapatkan  return  yang tinggi. Berlatihlah untuk bersabar,  dan tetap berpegang pada rencana Anda !

Baca juga: Menabung atau Berinvestasi: Mana yang Perlu Kamu Lakukan? 

Bawa Pulang

Survei terakhir yang dilakukan oleh Old Mutual Retirement Savings & Investments Monitor pada tahun 2019 menunjukkan bahwa kaum muda, terutama milenial, lebih suka membagi tabungannya untuk biaya sekolah, tabungan untuk rumah, atau bahkan mencicil biaya pelesir. Untuk dana pensiun? Hanya 1 dari 5 orang yang memiliki investasi untuk mempersiapkan masa tua. UPS!

Inilah kebenaran untuk Anda. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan—mulai dari nilai pajak, inflasi, biaya kesehatan, dan lainnya—karena hal tersebut di luar kontrol kita. Yang bisa kamu kontrol adalah jumlah uang dan investasimu.

Mulai detik ini, masukkan tabungan pensiun dalam prioritasmu. Jika tidak, kamu mungkin akan menjadi generasi yang harus bergantung pada anakmu untuk mendukung masa tuamu itu sendiri. Mari kita hentikan putaran ini . Meskipun tabungan pensiun tersebut seperti cicilan kartu kredit atau cicilan KPR yang harus kamu bayar selama beberapa tahun ke depan.

Apalagi penelitian terakhir yang dilakukan oleh Center for the Future of Aging di Milken Institute pada tahun 2019 menyatakan bahwa kemungkinan besar milenial akan hidup lebih lama dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Artinya lebih panjang umurmu, lebih besar jumlah uang yang kamu pesan untuk tabungan pensiun.

Inilah mengapa, penting bagi Anda untuk memiliki strategi jangka panjang yang solid, mempelajari semua hal yang perlu Anda ketahui tentang jangka panjang, membuat perencanaan sedini mungkin untuk dana pensiun, dan memulai investasi secepat mungkin. tujuan? Tentu untuk menjaga kualitas sebaik mungkin sekarang ini, serta mencegah Anda dari  stres finansial  ketika Anda bersenang-senang di pinggir pantai dengan segelas es kelapa segar di tangan. Semangat untuk masa depan ANDA yang lebih baik!

https://pina.id/classroom/detail/pentingnya-menyiapkan-dana-pensiun-sejak-muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *